Jakarta, 26 Mei 2026 – Aparat kepolisian mengungkap kasus dugaan penipuan yang dilakukan seorang pria dengan modus mengaku sebagai cucu seorang sultan untuk meyakinkan korban. Dengan identitas palsu tersebut, pelaku diduga berhasil memperoleh uang hingga sekitar Rp50 juta dari sejumlah korban yang percaya terhadap cerita dan janji yang disampaikannya. Kasus ini menjadi perhatian karena pelaku disebut memanfaatkan simbol status sosial dan ketokohan untuk membangun kepercayaan korban sebelum akhirnya melakukan penipuan. Polisi kini masih mendalami kemungkinan adanya korban lain serta menelusuri aliran dana yang diterima pelaku selama menjalankan aksinya. Modus penipuan berkedok identitas tokoh atau keluarga bangsawan dinilai semakin marak karena mampu memengaruhi psikologis korban melalui citra kehormatan dan kekuasaan.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, pelaku disebut memperkenalkan diri sebagai bagian dari keluarga kerajaan dan menjanjikan berbagai bantuan maupun peluang tertentu kepada korban. Untuk memperkuat ceritanya, pelaku diduga menggunakan atribut, gaya komunikasi, dan narasi yang dibuat seolah memiliki hubungan dengan kalangan elite. Beberapa korban mengaku percaya karena pelaku tampil meyakinkan dan mampu menunjukkan cerita yang tampak realistis mengenai latar belakang keluarganya. Setelah hubungan dengan korban terjalin, pelaku mulai meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan, mulai dari kebutuhan administrasi hingga janji bantuan tertentu. Namun setelah dana diberikan, janji yang disampaikan tidak pernah terealisasi dan pelaku mulai sulit dihubungi oleh para korban.

Kasus ini kembali menunjukkan bagaimana pelaku penipuan memanfaatkan psikologi sosial dan simbol status untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Pengamat sosial menilai banyak korban mudah percaya karena menganggap seseorang yang memiliki latar belakang keturunan bangsawan atau tokoh penting pasti memiliki pengaruh dan koneksi luas. Selain itu, pelaku sering memanfaatkan harapan korban terhadap peluang tertentu sehingga korban tidak melakukan pengecekan mendalam terhadap identitas maupun legalitas yang ditawarkan. Dalam beberapa tahun terakhir, modus penipuan berbasis pencitraan identitas memang semakin beragam dan memanfaatkan media sosial maupun hubungan personal untuk membangun keyakinan korban. Oleh sebab itu, masyarakat diminta lebih kritis dan tidak mudah percaya terhadap klaim identitas tanpa verifikasi yang jelas.

Sejumlah korban mengaku mengalami kerugian finansial cukup besar karena percaya terhadap cerita dan janji yang diberikan pelaku. Ada korban yang menyerahkan uang secara bertahap karena merasa yakin pelaku benar-benar berasal dari keluarga terpandang. Setelah menyadari adanya kejanggalan dan janji yang tidak kunjung dipenuhi, korban akhirnya melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian. Aparat kemudian melakukan penyelidikan hingga berhasil mengidentifikasi dugaan praktik penipuan yang dilakukan pelaku. Polisi juga mengimbau masyarakat yang merasa pernah mengalami modus serupa untuk segera melapor guna membantu proses pengembangan kasus dan pendataan korban lainnya.

Kepolisian memastikan proses hukum terhadap kasus tersebut akan terus berjalan sambil melengkapi alat bukti dan pemeriksaan saksi. Aparat mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap pihak yang menawarkan bantuan, jabatan, atau peluang tertentu dengan mengandalkan status sosial maupun klaim identitas besar. Verifikasi terhadap identitas dan rekam jejak seseorang dinilai penting untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan berkedok hubungan elite atau keturunan tokoh terkenal. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang mempermudah pencitraan identitas, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap berbagai modus manipulasi kepercayaan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa penipuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan simbol kehormatan dan nama besar demi keuntungan pribadi.